Senin, 11 November 2013

Maaf, Jika Aku Ingin Tahu

Semua berasal dari rasa di hati, kemudian memunculkan rasa ingin tau. Lalu terjadilah kejadian mencari tau dan kemudian menemukan apa yang diingini tau. Ingin tau bukanlah perbuatan tanpa risiko, sangat berisiko malah. Bisa jadi hasilnya membuatmu tenang, namun akan sangat mungkin berhasil membuat hatimu bimbang, atau terkadang justru rasa sakit akan datang menyerang. Iya, sakit!

Aku memendamnya cukup dalam dari mereka. Tak banyak bercerita, tak banyak bertanya, tapi mungkin sekarang kadar berharapku meningkat. Semua adalah hasil dari apa yang dilalui selama perkenalan ini terjadi. Di akhir angka 8 hingga sekarang angka 11, banyak kesan, kebahagiaan, cerita, penyatuan dua kepala sering menjadi warna-warna cerah setiap harinya. Sangat takut, dulu. Tapi kamu yang meyakinkan, hingga aku kini bertahan. Bertahan dengan harapan yang kian menghijau seiring gempuran-gempuran badai yang ingin menggugurkannya. Nyaman, tenang, dan terasa sempurna.
Terkadang aku merasa, aku ini hanya setetes air di lautan hidupnya. Itulah sebabnya mengapa ku simpan rapat cerita kita.(bolehkan aku menyebut kita di sini?) Hanya kepada yang terpercaya saja aku berbagi. Lautanmu terbentuk dari berbagai sumber mata air dengan kesejukan masing-masing. Tapi hati seorang wanita selalu peka, hati ini tau air mana yang mungkin menggenang di lautanmu.
Maaf jika aku tak sepenuhnya percaya, maaf jika aku sering curiga, maafff…maafff… Saya hanya memastikan kemungkinan, memperhatikan kenyataan. Hingga aku menemukan satu sumber yang benar-benar terasa berbeda. Semua kisahnya tentang kamu. Semula kukira biasa. Tapi sepertinya perkiraan itu salah. Ada kesejukan yang berbeda. Entah bagaimana awalnya dia bisa menjadi bagian dari lautmu, aku masih benar-benar menganalisa. Tapi sungguh di luar nalar, jika apa yang menjadi kecurigaan ini benar. Adalah kesakitan yang sungguh tak terelakkan. Iya, sakit. Begitu dalam dan tak terduga. Lantas apa maksud “tak semudah itu” yang kau lontarkan padaku kala itu? Apa? :(
Yang memang tdk bisa dielak adalah, mereka berada dalam satu wilayah kerja dan study. Sedangkan aku, jauh dari jangkauan. Mungkin karena itu juga saya kebanyakan ingin tahunya. Yang berakhir kesakitan macam ini. Entahlah, sesungguhnya aku sudah memilih saat ini. Dan sesungguh sama sekali tidak ada dalam perencanaan untuk merubah pilihan itu. Hatiku sudah memilih kamu. Kamu yang aku cari. Tapi apa harus aku merubah pilihan hati karena realita? Ah, jika saya boleh berharap, saya ingin apa yang saya simpulkan itu salah. Haha, konyol ya? Maka, tolong yakinkan saya! Tolong jelaskan pada saya! Aku membutuhkannya.
Allah, Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang tidak ku ketahui, baik itu yang nyata maupun tersembunyi. Engkaulah yang tau hari depan macam apa yang terbaik buat saya, hati yang bagaimana yang kelak akan membimbing saya, yang akan menjadi imam di dunia dan menuntunku ke surga-Mu, Ya Allah..  Saat ini, jika memang dia yang terbaik, berikanlah kelapangan dalam hati saya untuk senantiasa tulus memaafkan. Dan jika benar sekeping hati itu terletak pada hatinya, ku mohon jagalah hati itu hanya untukku, Tuhan. Jagalah dia, jagalah aku. Karena sesungguhnya, tiada yang mampu menjaga hamba sebaik penjagaanMu, Ya Rabb.. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar