20
Agustus 2013. Saat hari pertama acara wajib universitas itu dimulai, tak ada
yang beda, semua terasa biasa. Dan hari ini, aku melihatnya dengan lebih
seksama. Masih sama, tapi kali ini dengan sedikit perhatian. Sedikit, nggak
lebih. Sampai pada tanggal 21 bulan delapan, karena entah keteledoran atau
memang sebuah keharusan, aku membutuhkan bantuan. Bantuan yang hanya bisa
dilakukan oleh orang yang mengetahui sistemnya. Diri saya cuma mendatangi
sekelompok dari mereka, tanpa mau berharap lebih dia yang membantu. Saya memang
nggak mau terlalu berharap, itu hanya akan menimbulkan nyeri hati yang
terlampau dalam. Biasa saja, tapi berbeda.
Entah
jalan dari mana, dia menghampiri sosok saya dan seorang teman yang tidak dikenal, yang memang sedang menunggu bantuan. Dia datang dengan wajah telaga,
dengan keseriusan dan rasa tanggung jawab. Saya masih mencoba biasa, tapi
sebuah rasa telah menyihir hati, hingga saya tidak benar-benar tau apa
nama ‘rasa’ itu. Dibantuin sampai semua beres. Dengan beberapa basa-basi pada
petugas, dan dengan kesungguhan dia meyakinkan petugas. Saya telah dibantu. Tak
banyak percakapan, hanya beberapa saja. Tentang rumah asal, jurusan, dan
sedikit yang saya lupakan. Hehe… Bagi saya, pertemuan singkat itu memunculkan
sedikit getaran. Saya tidak mau melebih-lebihkan, saya juga nggak berani
terlalu cepat menyimpulkan perasaan. Tapi yang jelas, sore itu ibarat tiuapan
angin yang siap membawa debu masa lalu. (Note: masa lalu gak harus mantan kan? Baik,
terimakasih :D) *Soalnya saya berharap, cukup satu utk yang pertama dan
terakhir. Amin*
Sejak
hari itu, selain pada materi, perhatian dan fokus mata saya tertuju pada sosok dia.
Di mana saya nggak berani menaruh harapan lebih, nggak berani memiliki rasa
lebih; saya menahan diri untuk keselamatan hati saya waktu itu. Hingga hari
terakhir acara wajib tersebut terlaksana, tak ada lagi kejadian berarti. Hanya ketertarikan pada organisasi penyalur bakat yang diikutinya, yang kemudian bisa menjadi
obrolan saya selanjutnya. Eh tunggu, saya juga salah mengenal namanya pas
dihari-hari awal. Haha, parah banget. Sampai hari ke 5 kalo gak hari terakhir,
saya baru benar-benar ngeuh dan tau benar namanya. Parahhhh!! Haha :p Yang
bikin heran sih pas fansnya membludak, padahal pas perkenalan terus namanya
dipanggil nggak heboh-heboh amat. Eee, pas hari terakhir itu kenapa yang
ngerubutinya banyaak banget gitu? :|
Kemudian
di beberapa sosmed, saya menemukan akunnya dan mulai membicarakan beberapa topik.
Organisasi itulah yang menjadi salam kenal kita. Entah gaya tulisan atau tipe macam apa yang
dia ketik dan kirim, bisa-bisanya memberi rasa nyaman yang begitu besar buat
saya. Lalu saya menyebutnya dengan sosok yang rendah hati, karena memang sikap
itu yang terpancar dari dirinya. Dan mungkin, saya juga bisa menyebut perasaan
ini sebagai emmm….jatuh hati? Hmm, kata yang hanya berani saya amankan dalam untaian
doa.
Ada
beberapa alasan tentang hati yang tdk bisa tertuangkan sekarang, apa lagi di
sini. Ini juga dengan separuh keberanian yang tersedia. Nanti, jika memang jalan Tuhan menjadikan aku dan sosoknya menjadi kita,
saya akan mengungkapkannya. Termasuk tentang mimpi yang terjadi beberapa hari
sebelum pertemuan itu terjadi. Yang jelas, di sinilah saya memiliki keyakinan,
kepercayaan, dan keikhlasan yang tanpa sadar hadir, dan memberi kebahagian yang
belum pernah saya rasakan sebelum ini. Aku kembalikan pada Tuhan, atas apapun
pertanyaan yang ku ajukan. Maha-ku pasti memiliki jawaban terbaik. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar