Rabu, 18 September 2013

Dengan Separuh Keberanian


20 Agustus 2013. Saat hari pertama acara wajib universitas itu dimulai, tak ada yang beda, semua terasa biasa. Dan hari ini, aku melihatnya dengan lebih seksama. Masih sama, tapi kali ini dengan sedikit perhatian. Sedikit, nggak lebih. Sampai pada tanggal 21 bulan delapan, karena entah keteledoran atau memang sebuah keharusan, aku membutuhkan bantuan. Bantuan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang mengetahui sistemnya. Diri saya cuma mendatangi sekelompok dari mereka, tanpa mau berharap lebih dia yang membantu. Saya memang nggak mau terlalu berharap, itu hanya akan menimbulkan nyeri hati yang terlampau dalam. Biasa saja, tapi berbeda.
Entah jalan dari mana, dia menghampiri sosok saya dan seorang teman yang tidak dikenal, yang memang sedang menunggu bantuan. Dia datang dengan wajah telaga, dengan keseriusan dan rasa tanggung jawab. Saya masih mencoba biasa, tapi sebuah rasa telah menyihir hati, hingga saya tidak benar-benar tau apa nama ‘rasa’ itu. Dibantuin sampai semua beres. Dengan beberapa basa-basi pada petugas, dan dengan kesungguhan dia meyakinkan petugas. Saya telah dibantu. Tak banyak percakapan, hanya beberapa saja. Tentang rumah asal, jurusan, dan sedikit yang saya lupakan. Hehe… Bagi saya, pertemuan singkat itu memunculkan sedikit getaran. Saya tidak mau melebih-lebihkan, saya juga nggak berani terlalu cepat menyimpulkan perasaan. Tapi yang jelas, sore itu ibarat tiuapan angin yang siap membawa debu masa lalu. (Note: masa lalu gak harus mantan kan? Baik, terimakasih :D) *Soalnya saya berharap, cukup satu utk yang pertama dan terakhir. Amin*
Sejak hari itu, selain pada materi, perhatian dan fokus mata saya tertuju pada sosok dia. Di mana saya nggak berani menaruh harapan lebih, nggak berani memiliki rasa lebih; saya menahan diri untuk keselamatan hati saya waktu itu. Hingga hari terakhir acara wajib tersebut terlaksana, tak ada lagi kejadian berarti. Hanya ketertarikan pada organisasi penyalur bakat yang diikutinya, yang kemudian bisa menjadi obrolan saya selanjutnya. Eh tunggu, saya juga salah mengenal namanya pas dihari-hari awal. Haha, parah banget. Sampai hari ke 5 kalo gak hari terakhir, saya baru benar-benar ngeuh dan tau benar namanya. Parahhhh!! Haha :p Yang bikin heran sih pas fansnya membludak, padahal pas perkenalan terus namanya dipanggil nggak heboh-heboh amat. Eee, pas hari terakhir itu kenapa yang ngerubutinya banyaak banget gitu? :|
Kemudian di beberapa sosmed, saya menemukan akunnya dan mulai membicarakan beberapa topik. Organisasi itulah yang menjadi salam kenal kita. Entah gaya tulisan atau tipe macam apa yang dia ketik dan kirim, bisa-bisanya memberi rasa nyaman yang begitu besar buat saya. Lalu saya menyebutnya dengan sosok yang rendah hati, karena memang sikap itu yang terpancar dari dirinya. Dan mungkin, saya juga bisa menyebut perasaan ini sebagai emmm….jatuh hati? Hmm, kata yang hanya berani saya amankan dalam untaian doa.
Ada beberapa alasan tentang hati yang tdk bisa tertuangkan sekarang, apa lagi di sini. Ini juga dengan separuh keberanian yang tersedia. Nanti, jika memang jalan Tuhan menjadikan aku dan sosoknya menjadi kita, saya akan mengungkapkannya. Termasuk tentang mimpi yang terjadi beberapa hari sebelum pertemuan itu terjadi. Yang jelas, di sinilah saya memiliki keyakinan, kepercayaan, dan keikhlasan yang tanpa sadar hadir, dan memberi kebahagian yang belum pernah saya rasakan sebelum ini. Aku kembalikan pada Tuhan, atas apapun pertanyaan yang ku ajukan. Maha-ku pasti memiliki jawaban terbaik. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar