Tidak ada kehidupan yang hanya datar saja, atau naik saja, atau turun
saja. Hidup tidaklah terdiri dari satu warna, melainkan banyak tinta
yang menjadikan dunia ini indah berwarna. Sama halnya dengan rasa, tidak
ada suka yang hanya suka saja, cinta yang hanya cinta saja, atau benci
yang terus menjadi benci. Saya masih kurang mengerti dengan hakikat
kehadiran cinta. Tapi katanya, perasaan itu datangnya dari Tuhan ya?
Bukan kita yang menghendakinya? Yaa, sampai sekarang saya masih
menyetujui pendapat itu sih.. Namun, saya pernah membaca bahwa "tidak
mungkin dalam satu hati terdapat dua cinta, tidak mungkin." Dan saya
mencoba memahami benar dan sedang dalam proses menyetujuinya.
Ketika
tanpa diminta, tanpa bisa menahan hati, hatimu tertarik pada orang yang
banyak disukai oleh orang lain, apa yang dapat kamu perbuat? Harus
menahan gempuran, menahan keyakinan yang sebenarnya hati macam ini
membutuhkan diyakinkan dan dikuatkan. Saat keadaan memaksa menyerah,
ketika kondisi nyaman, bahagia, sekaligus rasa menemukan separuh dari
jiwa hadir bersamaan dalam hati dan cerita kehidupan. Saya mendapatkan
nasihat dari seorang teman "Kamu nggak usah mikirin orang lain. Kalau
hatimu senang, kamu nyaman, ya sudah bertahanlah." Ini semacam besi yang
mampu menyanggaku dari ringkihnya keberadaanku. Hahaha, dan dengan
kondisi yang seperti ini, saya bercerita pada teman SMA tanpa pernah
menyebut namanya ya. Dia merespon begini "Kamu menyukai orang yang
banyak disukai orang lain, padahal kamu sendiri disukai oleh banyak
orang." Dan duar! Ini semacam pernyataan yang membuat terbang sekaligus
menyambar. Hah, mungkin begitulah kehidupan. Memilih dan dipilih;
keduanya hadir dengan konsekuensi dan risikonya masing-masing, dan
dengan tawaran kebahagian masing-masing pula pastinya.
Lalu waktu
terus berjalan. Dan begitulah perjalanan, terkadang harus melewati jalan
yang terjal. Manusia banyak nggak taunya, hingga terkadang ada kejadian
yang bisa dibilang menggores perasaan, saat kamu mengetahuinya atau
kamu hanya bisa membentuk persepsi tentangnya; karena kamu nggak
mendapat penerangan darinya. Dalam kondisi seperti itu: Menyalahkan
keadaan atau menyalahkan orang lain menurutku adalah hal paling mubadzir
yang kamu lakukan, jika samapai itu terjadi. Karena apa yg dpt kamu
tuntut dari waktu lampau, dari kondisi yg bukan kamu yg menciptakan,
atau bahkan itu kehendak Tuhan. Menyalahkan orang yang bukan kamu, hanya
akan membuat hatimu semakin nyeri, lukamu makin menyala, dan kebencian
yang tiada akhir. Lantas yg mampu ku lakukan saat ini adalah menyalahkan
diri sendiri. Ya, seperti itulah.. Tapi bukan berarti menyakiti diri
sendiri ya! Dengan demikian aku mampu melihat apa yg menjadi
kekuranganku, apa sebenarnya kesalahanku, dpt memperbaiki diri, lalu
akan bersyukur kepada Tuhan karna aku telah mampu menjadi diriku sendiri.
Dari
masalah, saya belajar. Belajar utk lebih sabar, lebih mampu memaafkan,
lebih menjadi diri sendiri, dan yg pasti lebih banyak bersyukur. Ya,
begitulah masalah dan cara Tuhan mendewasakan manusianya. Terus berusaha
memperbaiki diri, semoga ridho Allah selalu menyertai. Amin.
Terimakasih :)


