Kepentingan. Semua orang punya, semua orang mengantonginya di dada masing-masing. Banyak urusan. Tapi siapa yang mau tau urusanmu yang itu, yang penting urusanmu denganku selesai, selebihnya aku tak peduli. Pengertian. Meminta pengertian dari orang lain, itu hanya serapah-serapah tak bertuan. Itu hanya pemanis buatan. Haha, bahkan bualan-bualan itu mengatasnamakan kekeluargaan, menjunjung tinggi kebaikan. Apaan?! Memang yang ada hanyalah lidah tak bertulang. Tuntutan-tuntutan berserakan di sepanjang jalan. Tapi pernah kau menengok, mencoba mememungutnya atau sekedar peduli mengamatinya? Pernah mencoba berpikir, jika saja kau yang berada di jalan itu bagaimana keadaanmu. Ah, persetan dengan pemakluman. Tapi kurasa manusia bukan setan yang tak punya nurani. Setiap darimu yang berusaha bukankah sepantasnya dihargai, diberi kesempatan untuk membuktikan. Bukannya setiap perjuangan adalah pengorbanan atas waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Ketika kau mengabaikan kerja keras temanmu, maka sungguh kau telah melupakan keringat atas dirimu sendiri. Atau mungkin kau memang manusia tanpa rongga dada. Atau kau benar-benar lupa, bahwa Tuhan Maha Adil, Maha Berkuasa atas kemuliaan umat-Nya. Maka sungguh, menghargai kepentingan orang lain adalah budi luhur, mengerti bahwa orang lain memiliki kepentingan yang lain adalah kelapangan, dan mempermudah urusan orang lain adalah bekal untuk terbukanya jalan kemudahan dari Tuhan. Yang kebanyakan teori, yang pernah punya retorika bulu domba tapi praktiknya serigala, mulailah membuka mata batinmu. Semoga Allah masih memberi kesempatan untukmu memperbaiki.
Sebab malam tak selamanya gelap. Genggam erat cahaya itu, simpan dalam hatimu. Jangan birkan padam. Nyalakan saat kau merasa tiada lagi pegangan dalam jalan yang semakin kelam. Maka ia akan semakin terang, terang, dan lebih tajam menyinari jengkal-jengkal langkahmu. Sejenak kau akan tenang atau sekedar menyadari bahwa Ia benar, Allah selalu hidup dalam hatimu pun dalam masalahmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar