Kamis, 05 November 2015

Todongan Ingatan

Aku mungkin bukan pengingat yg baik, tapi kau bisa menodongku dengan pertanyaan tentang baju apa yang kau kenakan tiap kali kita bertemu, selama ini. Atau jika kau ingin sekedar mengingat lagu apa saja yang kau putar saat bersamaku? Akan ku jawab dengan cepat dan tepat. Ya, ini tentang'mu' dan 'ku'. Tentang waktu dan jarak, atau tentang kenangan yang saling berkelindan diantara keduanya. Kau dan aku bukanlah dunia baru. Kita adalah dua yang berotasi sejak lama, yang acapkali bersama atau terkadang tak saling berkata untuk sekedar menghindari prahara. Kita adalah pejuang, dengan cita dan harapan yang ingin diwujudkan bersama. Namun kini sedang terhenti, dari orbital yang telah terbentuk oleh kita sendiri. Tetapi waktu tak pernah berhenti, bukan? Mau sampai kpn menggantungkan jwban pd waktu? Bukankah manusia adalah penentu bagi jln kehidupannya sendiri? Toh aku tidak, emm..bukan yg dengan mudah bs mengganti apa yg sdh ku pilih. Bukankah kau juga seperti itu? Bukankah kita penjaga hati yang baik bagi pilihan kita? Ya, setauku begitu. Hanya saja ketika harus bicara perkara perjuangan, aku adalah sosok yang renta, rentan menyerah jika tak kau iringi dengan genggamanmu. Begitulah.. Hingga kita terhenti (lagi). Hmm, mungkin Tuhan memang ingin memberi jeda pada langkah yang kita tempuh, agar tak semena mena meluapkan ingin dan sembarangan menelontarkan serapah. Ah, apapun itu ku harap kita bisa memanfaatkannya dg bijak, saling memperbaiki dan memantaskan diri. Entah ini terjadi mmg kehendak Tuhan atau karena keangkuhan kita. Kalau saja kau tau jawabannya, beri tahulah aku. Sebab kau adalah ingatan itu sendiri. Ingatan yang mengakar, menunjang tanah hingga paling pangkal. dan semestinya akar akan mempertahankan kokoh batang yg disangganya. Ia digdaya, tapi tak serta merta membiarkan bunganya layu dipetik angin. Ah Tuhan, jika memang terbaik, aku berdoa semoga Tuhan enyahkan keangkuhan itu dr diri kami. Tuntunlah utk kebersamaan yg baik, untuk ingatan yang pantas diperjuangkan, untuk kebersamaan yang saling menguatkan dalam kebaikan, saling memperjuangkan. Aku, akan terus memperbaiki diri. Entah untuk kembali, entah untuk yg lebih baik. KuasaNya lah segala kemungkinan itu.




Senin, 26 Oktober 2015

Kepentingan yang Berserakan

Kepentingan. Semua orang punya, semua orang mengantonginya di dada masing-masing. Banyak urusan. Tapi siapa yang mau tau urusanmu yang itu, yang penting urusanmu denganku selesai, selebihnya aku tak peduli. Pengertian. Meminta pengertian dari orang lain, itu hanya serapah-serapah tak bertuan. Itu hanya pemanis buatan. Haha, bahkan bualan-bualan itu mengatasnamakan kekeluargaan, menjunjung tinggi kebaikan. Apaan?! Memang yang ada hanyalah lidah tak bertulang. Tuntutan-tuntutan berserakan di sepanjang jalan. Tapi pernah kau menengok, mencoba mememungutnya atau sekedar peduli mengamatinya? Pernah mencoba berpikir, jika saja kau yang berada di jalan itu bagaimana keadaanmu. Ah, persetan dengan pemakluman. Tapi kurasa manusia bukan setan yang tak punya nurani. Setiap darimu yang berusaha bukankah sepantasnya dihargai, diberi kesempatan untuk membuktikan. Bukannya setiap perjuangan adalah pengorbanan atas waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Ketika kau mengabaikan kerja keras temanmu, maka sungguh kau telah melupakan keringat atas dirimu sendiri. Atau mungkin kau memang manusia tanpa rongga dada. Atau kau benar-benar lupa, bahwa Tuhan Maha Adil, Maha Berkuasa atas kemuliaan umat-Nya. Maka sungguh, menghargai kepentingan orang lain adalah budi luhur, mengerti bahwa orang lain memiliki kepentingan yang lain adalah kelapangan, dan mempermudah urusan orang lain adalah bekal untuk terbukanya jalan kemudahan dari Tuhan. Yang kebanyakan teori, yang pernah punya retorika bulu domba tapi praktiknya serigala, mulailah membuka mata batinmu. Semoga Allah masih memberi kesempatan untukmu memperbaiki.

Sebab malam tak selamanya gelap. Genggam erat cahaya itu, simpan dalam hatimu. Jangan birkan padam. Nyalakan saat kau merasa tiada lagi pegangan dalam jalan yang  semakin kelam. Maka ia akan semakin terang, terang, dan lebih tajam menyinari jengkal-jengkal langkahmu. Sejenak kau akan tenang atau sekedar menyadari bahwa Ia benar, Allah selalu hidup dalam hatimu pun dalam masalahmu.