Kali ini, dalam ketenangan yang kurasakan, dalam
erat pelukan Tuhan, ku putar memori-memori yang pernah menghiasi hariku.
Tinggal memori memang. Tapi tenang saja, insyaAllah aku sudah benar-benar
berdamai dengan keadaan dan menerima kejutan waktu yang telah datang; dengan
lapang.
Aku hanya ingin menuliskan serpihan-serpihan
canda, tawa, suka, bahagia, atau bahkan duka yang pernah tercipta. Iya, tercipta
tanpa pernah ku pinta, tanpa pernah ku rencana.
Bertemu dan mengenalmu, sungguh bukan kuasaku.
Menaruh rasa apa lagi, sama sekali di luar kehendakku. Tapi waktu dan keadaan
membawaku. Membawa aku menemukanmu. Menemukan sesuatu yang ingin kujaga, tapi
pada akhirnya harus kulepas jua.
Berbicara tentang kebetulan. Begitu banyak
kebetulan yang tak pernah ku rencana dan ku yakin begitu pula denganmu, tak
merencanakannya. Termasuk pertemuan pertama kita, tentu tak kau rencanakan,
kan?
Lalu mengenalmu lebih jauh, menemukan lebih
banyak lagi kebetulan-kebetulan dari keberadaanku dan keberadaanmu di dunia.
Kebetulan aku dan kamu lahir di bulan yang sama. Kebetulan 3 hari kala itu kau
mengenakan warna baju yang sama denganku. Kebetulan kau sedang mensuplai tenaga
di dekat tempat ku membutuhkanmu. Kebetulan ketidak percayaanmu akan orang yang
ku ceritakan, bercerita padamu. Kebetulan hariku dan harimu membeli sesuatu itu
selisih sehari, sama seperti harimu tercipta di dunia, selisih sehari denganku.
Kebetulan sesuatu yang lama sama-sama diberikan pada orang terdekat; salah satu
dari anggota keluarga. Kebetulan setiap kali kau akan datang, aku memiliki
firasat dan lagi-lagi mungkin sebuah kebetulan, firasat itu sering kali benar. Dan
setiap pertemuan yang terjadi, mungkin aku hanya berharap pada kebetulan?
Begitulah…
Tapi kata mereka, kebetulan itu tidak ada. Semua
sudah berdasarkan garis Tuhan, katanya. Lantas semua peristiwa yang terjadi
tanpa direncana manusia, dapat disebut apa kalau bukan kebetulan? Iya kan?
Ah sudahlah… Tak bijak rasanya mempermasalahkan
istilah dari ketidaksengajaan itu. Tapi yang pasti, dalam setiap kebetulan
tidak pernah ada yang dipaksa pun memaksa. Tidak pernah ada yang mencoba
berkorban dalam kebetulan. Karena ya seperti namanya. Kebetulan. Ya, dalam
kenangan.
Kini. Kau tau, yang kuingin kan sekarang adalah
kebahagiaan tanpa adanya kepedihan. Aku ingin melupakan semua yang teringat.
Cukup kau pernah ada, tak perlu untuk tetap ada; di hidupku. Cukup dulu, tak
usah lagi sekarang. Aku jahat? Aku egois? Whatever.
Tapi menurutku ini adalah cara paling aman
menyelamatkan diriku sendiri. Hilanglah sehilang mungkin. Pergilah sejauh
mungkin. Hanya satu yang ingin ku tekankan, aku tidak pernah membencimu. Aku
dan kamu tetap baik-baik saja. Aku hanya ingin menemukan aku yang sesungguhnya,
tanpamu. Kali ini aku ingin lebih tegas, seperti katamu. Lebih tegas dalam
perkataan, tegas pada perbuatan, dan aku akan tegas pada pilihan dan hidupku
sendiri. Tegas untuk melupakanmu, tegas untuk benar-benar pergi darimu. Mungkin
bahasaku kali ini juga berbeda? Haha, yaa..aku sedang mencoba memang. Lebih
lugas. :)
Aku ingin bicara sedikit. Malam ini aku meneguk
sekaleng susu. Kau tau, susu tawar itu rasanya semakin tawar tanpa kehadiranmu.
Dan mungkin untuk benar-benar melupakanmu, aku akan menjauhi segala tentangmu. Kau
tak salah, waktu pun tak salah, keadaan juga tak salah. Tiada yang salah dalam
takdir. Tak perlu memaksa. Tidak ada yang berakhir baik dari segala paksaan
yang dicipta.
Selamat tinggal? Semoga mendapatkan apa yang kau
cari. Apa yang menurutmu baik. Dan aku, bismillah… semoga bisa menjadi pribadi
yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Menjadi Ratih yang jauh lebih kokoh,
lebih tinggi, lebih dekat dengan sang Maha Cinta. Mampu menjadi manusia yang
lebih bermanfaat untuk sesama, untuk dunia. Dan ku yakin, Tuhan akan memberi
yang terbaik. Terbaik untuk hidupku, untuk keluargaku, untuk agama dan citaku.
InsyaAllah. Aamiin ya rabbal’alamin. Selamat tinggal? ;)
Dengan
segenap keikhlasan
21
Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar