Senin, 23 Juni 2014

Memori dan Kebetulan (?)



Kali ini, dalam ketenangan yang kurasakan, dalam erat pelukan Tuhan, ku putar memori-memori yang pernah menghiasi hariku. Tinggal memori memang. Tapi tenang saja, insyaAllah aku sudah benar-benar berdamai dengan keadaan dan menerima kejutan waktu yang telah datang; dengan lapang.
Aku hanya ingin menuliskan serpihan-serpihan canda, tawa, suka, bahagia, atau bahkan duka yang pernah tercipta. Iya, tercipta tanpa pernah ku pinta, tanpa pernah ku rencana.
Bertemu dan mengenalmu, sungguh bukan kuasaku. Menaruh rasa apa lagi, sama sekali di luar kehendakku. Tapi waktu dan keadaan membawaku. Membawa aku menemukanmu. Menemukan sesuatu yang ingin kujaga, tapi pada akhirnya harus kulepas jua.
Berbicara tentang kebetulan. Begitu banyak kebetulan yang tak pernah ku rencana dan ku yakin begitu pula denganmu, tak merencanakannya. Termasuk pertemuan pertama kita, tentu tak kau rencanakan, kan?
Lalu mengenalmu lebih jauh, menemukan lebih banyak lagi kebetulan-kebetulan dari keberadaanku dan keberadaanmu di dunia. Kebetulan aku dan kamu lahir di bulan yang sama. Kebetulan 3 hari kala itu kau mengenakan warna baju yang sama denganku. Kebetulan kau sedang mensuplai tenaga di dekat tempat ku membutuhkanmu. Kebetulan ketidak percayaanmu akan orang yang ku ceritakan, bercerita padamu. Kebetulan hariku dan harimu membeli sesuatu itu selisih sehari, sama seperti harimu tercipta di dunia, selisih sehari denganku. Kebetulan sesuatu yang lama sama-sama diberikan pada orang terdekat; salah satu dari anggota keluarga. Kebetulan setiap kali kau akan datang, aku memiliki firasat dan lagi-lagi mungkin sebuah kebetulan, firasat itu sering kali benar. Dan setiap pertemuan yang terjadi, mungkin aku hanya berharap pada kebetulan? Begitulah…
Tapi kata mereka, kebetulan itu tidak ada. Semua sudah berdasarkan garis Tuhan, katanya. Lantas semua peristiwa yang terjadi tanpa direncana manusia, dapat disebut apa kalau bukan kebetulan? Iya kan?
Ah sudahlah… Tak bijak rasanya mempermasalahkan istilah dari ketidaksengajaan itu. Tapi yang pasti, dalam setiap kebetulan tidak pernah ada yang dipaksa pun memaksa. Tidak pernah ada yang mencoba berkorban dalam kebetulan. Karena ya seperti namanya. Kebetulan. Ya, dalam kenangan.
Kini. Kau tau, yang kuingin kan sekarang adalah kebahagiaan tanpa adanya kepedihan. Aku ingin melupakan semua yang teringat. Cukup kau pernah ada, tak perlu untuk tetap ada; di hidupku. Cukup dulu, tak usah lagi sekarang. Aku jahat? Aku egois? Whatever.
Tapi menurutku ini adalah cara paling aman menyelamatkan diriku sendiri. Hilanglah sehilang mungkin. Pergilah sejauh mungkin. Hanya satu yang ingin ku tekankan, aku tidak pernah membencimu. Aku dan kamu tetap baik-baik saja. Aku hanya ingin menemukan aku yang sesungguhnya, tanpamu. Kali ini aku ingin lebih tegas, seperti katamu. Lebih tegas dalam perkataan, tegas pada perbuatan, dan aku akan tegas pada pilihan dan hidupku sendiri. Tegas untuk melupakanmu, tegas untuk benar-benar pergi darimu. Mungkin bahasaku kali ini juga berbeda? Haha, yaa..aku sedang mencoba memang. Lebih lugas. :)
Aku ingin bicara sedikit. Malam ini aku meneguk sekaleng susu. Kau tau, susu tawar itu rasanya semakin tawar tanpa kehadiranmu. Dan mungkin untuk benar-benar melupakanmu, aku akan menjauhi segala tentangmu. Kau tak salah, waktu pun tak salah, keadaan juga tak salah. Tiada yang salah dalam takdir. Tak perlu memaksa. Tidak ada yang berakhir baik dari segala paksaan yang dicipta.
Selamat tinggal? Semoga mendapatkan apa yang kau cari. Apa yang menurutmu baik. Dan aku, bismillah… semoga bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Menjadi Ratih yang jauh lebih kokoh, lebih tinggi, lebih dekat dengan sang Maha Cinta. Mampu menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk sesama, untuk dunia. Dan ku yakin, Tuhan akan memberi yang terbaik. Terbaik untuk hidupku, untuk keluargaku, untuk agama dan citaku. InsyaAllah. Aamiin ya rabbal’alamin. Selamat tinggal? ;)


                                                                                     Dengan segenap keikhlasan
                                                                                                21 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar