Selasa, 12 November 2013

Rasa, Salah Siapa?

Tidak ada kehidupan yang hanya datar saja, atau naik saja, atau turun saja. Hidup tidaklah terdiri dari satu warna, melainkan banyak tinta yang menjadikan dunia ini indah berwarna. Sama halnya dengan rasa, tidak ada suka yang hanya suka saja, cinta yang hanya cinta saja, atau benci yang terus menjadi benci. Saya masih kurang mengerti dengan hakikat kehadiran cinta. Tapi katanya, perasaan itu datangnya dari Tuhan ya? Bukan kita yang menghendakinya? Yaa, sampai sekarang saya masih menyetujui pendapat itu sih.. Namun, saya pernah membaca bahwa "tidak mungkin dalam satu hati terdapat dua cinta, tidak mungkin." Dan saya mencoba memahami benar dan sedang dalam proses menyetujuinya.
Ketika tanpa diminta, tanpa bisa menahan hati, hatimu tertarik pada orang yang banyak disukai oleh orang lain, apa yang dapat kamu perbuat? Harus menahan gempuran, menahan keyakinan yang sebenarnya hati macam ini membutuhkan diyakinkan dan dikuatkan. Saat keadaan memaksa menyerah, ketika kondisi nyaman, bahagia, sekaligus rasa menemukan separuh dari jiwa hadir bersamaan dalam hati dan cerita kehidupan. Saya mendapatkan nasihat dari seorang teman "Kamu nggak usah mikirin orang lain. Kalau hatimu senang, kamu nyaman, ya sudah bertahanlah." Ini semacam besi yang mampu menyanggaku dari ringkihnya keberadaanku. Hahaha, dan dengan kondisi yang seperti ini, saya bercerita pada teman SMA tanpa pernah menyebut namanya ya. Dia merespon begini "Kamu menyukai orang yang banyak disukai orang lain, padahal kamu sendiri disukai oleh banyak orang." Dan duar! Ini semacam pernyataan yang membuat terbang sekaligus menyambar. Hah, mungkin begitulah kehidupan. Memilih dan dipilih; keduanya hadir dengan konsekuensi dan risikonya masing-masing, dan dengan tawaran kebahagian masing-masing pula pastinya.
Lalu waktu terus berjalan. Dan begitulah perjalanan, terkadang harus melewati jalan yang terjal. Manusia banyak nggak taunya, hingga terkadang ada kejadian yang bisa dibilang menggores perasaan, saat kamu mengetahuinya atau kamu hanya bisa membentuk persepsi tentangnya; karena kamu nggak mendapat penerangan darinya. Dalam kondisi seperti itu: Menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain menurutku adalah hal paling mubadzir yang kamu lakukan, jika samapai itu terjadi. Karena apa yg dpt kamu tuntut dari waktu lampau, dari kondisi yg bukan kamu yg menciptakan, atau bahkan itu kehendak Tuhan. Menyalahkan orang yang bukan kamu, hanya akan membuat hatimu semakin nyeri, lukamu makin menyala, dan kebencian yang tiada akhir. Lantas yg mampu ku lakukan saat ini adalah menyalahkan diri sendiri. Ya, seperti itulah.. Tapi bukan berarti menyakiti diri sendiri ya! Dengan demikian aku mampu melihat apa yg menjadi kekuranganku, apa sebenarnya kesalahanku, dpt memperbaiki diri, lalu akan bersyukur kepada Tuhan karna aku telah mampu menjadi diriku sendiri.
Dari masalah, saya belajar. Belajar utk lebih sabar, lebih mampu memaafkan, lebih menjadi diri sendiri, dan yg pasti lebih banyak bersyukur. Ya, begitulah masalah dan cara Tuhan mendewasakan manusianya. Terus berusaha memperbaiki diri, semoga ridho Allah selalu menyertai. Amin. Terimakasih :)

Senin, 11 November 2013

Maaf, Jika Aku Ingin Tahu

Semua berasal dari rasa di hati, kemudian memunculkan rasa ingin tau. Lalu terjadilah kejadian mencari tau dan kemudian menemukan apa yang diingini tau. Ingin tau bukanlah perbuatan tanpa risiko, sangat berisiko malah. Bisa jadi hasilnya membuatmu tenang, namun akan sangat mungkin berhasil membuat hatimu bimbang, atau terkadang justru rasa sakit akan datang menyerang. Iya, sakit!

Aku memendamnya cukup dalam dari mereka. Tak banyak bercerita, tak banyak bertanya, tapi mungkin sekarang kadar berharapku meningkat. Semua adalah hasil dari apa yang dilalui selama perkenalan ini terjadi. Di akhir angka 8 hingga sekarang angka 11, banyak kesan, kebahagiaan, cerita, penyatuan dua kepala sering menjadi warna-warna cerah setiap harinya. Sangat takut, dulu. Tapi kamu yang meyakinkan, hingga aku kini bertahan. Bertahan dengan harapan yang kian menghijau seiring gempuran-gempuran badai yang ingin menggugurkannya. Nyaman, tenang, dan terasa sempurna.
Terkadang aku merasa, aku ini hanya setetes air di lautan hidupnya. Itulah sebabnya mengapa ku simpan rapat cerita kita.(bolehkan aku menyebut kita di sini?) Hanya kepada yang terpercaya saja aku berbagi. Lautanmu terbentuk dari berbagai sumber mata air dengan kesejukan masing-masing. Tapi hati seorang wanita selalu peka, hati ini tau air mana yang mungkin menggenang di lautanmu.
Maaf jika aku tak sepenuhnya percaya, maaf jika aku sering curiga, maafff…maafff… Saya hanya memastikan kemungkinan, memperhatikan kenyataan. Hingga aku menemukan satu sumber yang benar-benar terasa berbeda. Semua kisahnya tentang kamu. Semula kukira biasa. Tapi sepertinya perkiraan itu salah. Ada kesejukan yang berbeda. Entah bagaimana awalnya dia bisa menjadi bagian dari lautmu, aku masih benar-benar menganalisa. Tapi sungguh di luar nalar, jika apa yang menjadi kecurigaan ini benar. Adalah kesakitan yang sungguh tak terelakkan. Iya, sakit. Begitu dalam dan tak terduga. Lantas apa maksud “tak semudah itu” yang kau lontarkan padaku kala itu? Apa? :(
Yang memang tdk bisa dielak adalah, mereka berada dalam satu wilayah kerja dan study. Sedangkan aku, jauh dari jangkauan. Mungkin karena itu juga saya kebanyakan ingin tahunya. Yang berakhir kesakitan macam ini. Entahlah, sesungguhnya aku sudah memilih saat ini. Dan sesungguh sama sekali tidak ada dalam perencanaan untuk merubah pilihan itu. Hatiku sudah memilih kamu. Kamu yang aku cari. Tapi apa harus aku merubah pilihan hati karena realita? Ah, jika saya boleh berharap, saya ingin apa yang saya simpulkan itu salah. Haha, konyol ya? Maka, tolong yakinkan saya! Tolong jelaskan pada saya! Aku membutuhkannya.
Allah, Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang tidak ku ketahui, baik itu yang nyata maupun tersembunyi. Engkaulah yang tau hari depan macam apa yang terbaik buat saya, hati yang bagaimana yang kelak akan membimbing saya, yang akan menjadi imam di dunia dan menuntunku ke surga-Mu, Ya Allah..  Saat ini, jika memang dia yang terbaik, berikanlah kelapangan dalam hati saya untuk senantiasa tulus memaafkan. Dan jika benar sekeping hati itu terletak pada hatinya, ku mohon jagalah hati itu hanya untukku, Tuhan. Jagalah dia, jagalah aku. Karena sesungguhnya, tiada yang mampu menjaga hamba sebaik penjagaanMu, Ya Rabb.. Amin.