Selasa, 14 Mei 2013

Selubung Kabut Dalam Palung Danau (I)



Entah apa dan bagaimana ini terjadi. Baru beberapa hari menapakkan kaki di bumi sekolah ini, ketika suatu event terjadi kemudian mempertemukan dua keping hati tak berantai. Semula tarikan itu bukan dari diri pribadi, namun karena masalalu yg membawaku menemuimu. Semua terasa biasa saja mengalir dan menggenang tenang, kemudian perlahan penuh. Mencoba utk mengarunginya dan menemukan tepi danau itu utk disinggahi. Sebenarnya memang harus berfikir, aku akan naik apa, ke arah mana, dan bagaimana agar bisa menepi dengan baik.

“Melangkahnya perlahan saja, tdk usah buru-buru, ntar gak maximal. Cobalah melakukan yang terbaik.” Gertakan dlm hatiku.
Karena arus air yang tdk tenang, bahkan danaupun bisa terjadi ombak, maka proses itu terhenti dan hanya merambat perlahan sesuai kemampuan dengan cepat rambat yang lambat. Biarlah, ombak itu utk ditempuh, sabarlah dan tanamkan keikhlasan dan perlahan akan berhasil.
Sesungguhnya tdk berniat memusnahkan ombak, hanya niat utk tetap bertahan. Disini Allah menjawab keteguhan hatiku, sehingga dia menghilang tanpa  desakan, namun karena Kuasa Tuhan.

“Sudah lama Lho ini, tp kok masih statis begini.” Unek-unek yang muncul setelah lama berlayar dan ingin menyerah.. #Oopz, sebenarnya sih sadar saja, tapi ini harapan. :)
Jadi tersadar jk sejak awal sebenarnya danau ini luas tdk seperti yg lain. Tp awalnya dialah yg menarikku utk mengarunginya. Yaa, mencoba mengikuti karena mmg itu tujuan. Sudah lama, tapi danau itu baru tahu kalau ada turis berkunjung. Ketika melihat dia bersinar terkena pantulan cahaya mentari, itulah langkah awalku.
Selama itu aku mencoba melakukan& memberi yg terbaik sesuai kemampuanku. Seperti kiasan yg kudapat, “Belahan jiwa itu hanya seindah pribadi yang kau miliki.” Maka mencoba memberi ketulusan akan proses ini, dan bersabar dengan gelombang yang tdk teratur shg tiada ombak gempa pun bisa melanda. Yaa, mencoba menata hati di atas daun talas. Rasa ingin menyerah, membencimu pun sepertinya pantas. Tapi aku tdk bisa..Sesungguhnya sudut kekeruhanmu, ruang jernihmu atau apapun itu aku sdh mendengar dan mengetahuinya. Tapi akar pohon besar ini menahanku. Aku tdk bs..

Sabar....Sabar...Sabar... lama kelamaan habis juga. Setelah terombang-ambing di tengah danau yg bergelombang pasang, terdengar ada teriakan;
“Jaman amburadul kyo ngne seg golek uong keren? Uong keren kie gak ngefek ge urip.mu, golek sg ngerteni kowe, sg mikir masa depan!”
Huuh, sebenarnya smw itu ada dlm genangan air itu. Namun rasa utk menjagaku sama sekali nihil. Sebenarnya beberapa kali, sikap menyuruhku pergi, tapi ada tarikan dari kutub dadakan utk tetap disini. Dengan suara itu aku benar” mengerti. Baik, danau itu kini tersohor, dia kini luar biasa baik, dia memekarkan bunga dan menebar semerbak harum namamu ditanah kelahiranmu. Tapi sesungguhnya, aku ingin melihat kamu yg benar-benar baik, bukan yg luar biasa baik, kamu yg apa adanya, yang belum seterang ini, dan dengan penuh kerendahan hati. Sepertinya itu sulit, dan tiada pemahaman akan proses yang telah terlampaui.
Sepertinya kini aku benar” sadar,& mengerti. Smw itu fiksi, dan aku hrs pergi. Disini hanya akan mendapat luka yg perih. Tdk ada pengertian, dan hanya membuatku semakin perih. Mungkin sejak dulu itu semu, dan aku yang terlalu ingin tahu. Kini jk kamu ttp seperti itu, aku di ambang rasa menyerah.
Kamu yg baik, smg Tuhan menjagamu untukku. Dan aku akan terus menjadi lebih baik, atas izin Allah :)
Ya sdh, sekarang biarkan kehendak Tuhan dan waktu yang membawaku utk ttp disini atau terbang jauh meninggalkan danau dan menuju awan tinggi yg lebih indah. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar