Entah
apa dan bagaimana ini terjadi. Baru beberapa hari menapakkan kaki di bumi
sekolah ini, ketika suatu event terjadi kemudian mempertemukan dua keping hati
tak berantai. Semula tarikan itu bukan dari diri pribadi, namun karena masalalu
yg membawaku menemuimu. Semua terasa biasa saja mengalir dan menggenang tenang,
kemudian perlahan penuh. Mencoba utk mengarunginya dan menemukan tepi danau itu
utk disinggahi. Sebenarnya memang harus berfikir, aku akan naik apa, ke arah
mana, dan bagaimana agar bisa menepi dengan baik.
“Melangkahnya
perlahan saja, tdk usah buru-buru, ntar gak maximal. Cobalah melakukan yang
terbaik.” Gertakan dlm hatiku.
Karena
arus air yang tdk tenang, bahkan danaupun bisa terjadi ombak, maka proses itu
terhenti dan hanya merambat perlahan sesuai kemampuan dengan cepat rambat yang
lambat. Biarlah, ombak itu utk ditempuh, sabarlah dan tanamkan keikhlasan dan
perlahan akan berhasil.
Sesungguhnya
tdk berniat memusnahkan ombak, hanya niat utk tetap bertahan. Disini Allah
menjawab keteguhan hatiku, sehingga dia menghilang tanpa desakan, namun karena Kuasa Tuhan.
“Sudah
lama Lho ini, tp kok masih statis begini.” Unek-unek yang muncul setelah lama
berlayar dan ingin menyerah.. #Oopz, sebenarnya sih sadar saja, tapi ini
harapan. :)
Jadi
tersadar jk sejak awal sebenarnya danau ini luas tdk seperti yg lain. Tp
awalnya dialah yg menarikku utk mengarunginya. Yaa, mencoba mengikuti karena
mmg itu tujuan. Sudah lama, tapi danau itu baru tahu kalau ada turis
berkunjung. Ketika melihat dia bersinar terkena pantulan cahaya mentari, itulah
langkah awalku.
Selama
itu aku mencoba melakukan& memberi yg terbaik sesuai kemampuanku. Seperti
kiasan yg kudapat, “Belahan jiwa itu hanya seindah pribadi yang kau miliki.”
Maka mencoba memberi ketulusan akan proses ini, dan bersabar dengan gelombang
yang tdk teratur shg tiada ombak gempa pun bisa melanda. Yaa, mencoba menata
hati di atas daun talas. Rasa ingin menyerah, membencimu pun sepertinya pantas.
Tapi aku tdk bisa..Sesungguhnya sudut kekeruhanmu, ruang jernihmu atau apapun
itu aku sdh mendengar dan mengetahuinya. Tapi akar pohon besar ini menahanku.
Aku tdk bs..
Sabar....Sabar...Sabar...
lama kelamaan habis juga. Setelah terombang-ambing di tengah danau yg
bergelombang pasang, terdengar ada teriakan;
“Jaman
amburadul kyo ngne seg golek uong keren? Uong keren kie gak ngefek ge urip.mu,
golek sg ngerteni kowe, sg mikir masa depan!”
Huuh,
sebenarnya smw itu ada dlm genangan air itu. Namun rasa utk menjagaku sama
sekali nihil. Sebenarnya beberapa kali, sikap menyuruhku pergi, tapi ada
tarikan dari kutub dadakan utk tetap disini. Dengan suara itu aku benar”
mengerti. Baik, danau itu kini tersohor, dia kini luar biasa baik, dia
memekarkan bunga dan menebar semerbak harum namamu ditanah kelahiranmu. Tapi
sesungguhnya, aku ingin melihat kamu yg benar-benar baik, bukan yg luar biasa
baik, kamu yg apa adanya, yang belum seterang ini, dan dengan penuh kerendahan
hati. Sepertinya itu sulit, dan tiada pemahaman akan proses yang telah
terlampaui.
Sepertinya
kini aku benar” sadar,& mengerti. Smw itu fiksi, dan aku hrs pergi. Disini
hanya akan mendapat luka yg perih. Tdk ada pengertian, dan hanya membuatku
semakin perih. Mungkin sejak dulu itu semu, dan aku yang terlalu ingin tahu.
Kini jk kamu ttp seperti itu, aku di ambang rasa menyerah.
Kamu
yg baik, smg Tuhan menjagamu untukku. Dan aku akan terus menjadi lebih baik, atas izin Allah :)
Ya
sdh, sekarang biarkan kehendak Tuhan dan waktu yang membawaku utk ttp disini
atau terbang jauh meninggalkan danau dan menuju awan tinggi yg lebih indah. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar