Sabtu, 26 April 2014

Ku Sebut Takdir dan Percaya



Kita adalah manusia dewasa yang memang seharusnya saling percaya.
Tapi dewasa bukan berarti tidak memerlukan perhatian, pengertian, dan diyakinkan.
Baja mungkin memang kuat, tapi ia takkan berfungsi jika tidak dimodifikasi sesuai kebutuhan.
Aku ada pada batas waktu.
Aku mengerti dengan beberapa toleransi.
Tapi ketika batas itu habis, toleransi itu harus berakhir, dan keyakinan itu tak jua dinyatakan,
tak salah kan jika aku hilang dalam lelap malam?
Aku melihat masa depan dengan mata bahagia kebersamaan.
Namun jika pisah harus menjadi jawaban, semua diluar kuasaku.  
Aku berjalan di atas jalanmu. Mungkin salah. Tapi aku makmum kan?
Mungkin aku terlalu banyak bertanya tentang arti kita.
Tapi apa itu juga salah, jika yang terjadi selama aku mengenal kota ini, hanya namamu yang dikenal oleh hatiku.
Selama aku hidup di atas tanah ini, entah badai, entah lesus, topan, atau halilintar sekalipun hadir darimu, aku masih ada. Aku masih mencoba berdiri.
Bukan tak ada pilihan, tapi mau gimana lagi, sudah mencoba hilangpun
lagi-lagi tetap bayangmu yang muncul.
Tetap saja namamu yang timbul.
Aku juga heran kenapa harus kamu.
Bahkan sangat heran ketika pernah seratus persen kau bawa keyakinanku.
Pernah hilang. Tapi tak pernah benar-benar hilang.
Lukisan wajahmu bukan hanya siluet, melainkan sebuah ukiran.
Aku tak tau. Hanya saja, setauku jika disebut tulang rusuk, tidak akan tertukar.
Mau kamu berlari ke kutub utara, hilang di segitiga Bermuda, pun pergi ke abad 19 sekalipun,
kalau memang kamu diciptakan Tuhan untuk berdampingan, kamu akan hadir.
Kamu akan tiba di hadapanku, menyandingku, mendampingiku.
Mungkin kepercayaan adalah awal penghianatan. Tapi ketika kepercayaan itu diserahkan pada Tuhan, ketakutan macam apa lagi yang masih ingin kau simpan? ;)
Sabar, ikhlas, serahkan pada Tuhan. Berat pasti, tapi pasti terjawab. Takdirmu adalah jalan terbaikmu.

Senin, 07 April 2014

Terserah (Berjalanlah)


Telusuri saja jalan yang kau mau, sepuasmu
Teruskan saja perjalananmu hingga puas hadir dibenakmu
Hingga tiada lagi aku, sampai tak lagi kau temukanku
di ujung jalanmu
Luapan ombak bergemuruh, menyuruhku tuk luruh.
Mengenang indahnya kenangan
hanyalah pengkhianatan pada proses melupakan
Namun memang tak sepantasnya goresan-goresan indah itu kau bakar begitu saja
Sebab itu menjadi dusta pada murninya isi dalam dada
Realistis.
Maka kan kau temukan jawaban magis
dari tanya-tanya tragis hingga yang paling manis

Pergilah sesukamu
dan kau takkan lagi temukanku
di tempat yang kau mau