Kita adalah manusia dewasa
yang memang seharusnya saling percaya.
Tapi dewasa bukan berarti
tidak memerlukan perhatian, pengertian, dan diyakinkan.
Baja mungkin memang kuat,
tapi ia takkan berfungsi jika tidak dimodifikasi sesuai kebutuhan.
Aku ada pada batas waktu.
Aku mengerti dengan
beberapa toleransi.
Tapi ketika batas itu
habis, toleransi itu harus berakhir, dan keyakinan itu tak jua dinyatakan,
tak salah kan jika aku
hilang dalam lelap malam?
Aku melihat masa depan
dengan mata bahagia kebersamaan.
Namun jika pisah harus
menjadi jawaban, semua diluar kuasaku.
Aku
berjalan di atas jalanmu. Mungkin
salah. Tapi aku makmum kan?
Mungkin aku terlalu banyak
bertanya tentang arti kita.
Tapi apa itu juga salah,
jika yang terjadi selama aku mengenal kota ini, hanya namamu yang dikenal oleh
hatiku.
Selama aku hidup di atas
tanah ini, entah badai, entah lesus, topan, atau halilintar sekalipun hadir
darimu, aku masih ada. Aku masih mencoba
berdiri.
Bukan tak ada pilihan,
tapi mau gimana lagi, sudah mencoba hilangpun
lagi-lagi tetap bayangmu
yang muncul.
Tetap saja namamu yang
timbul.
Aku juga heran kenapa
harus kamu.
Bahkan sangat heran ketika pernah seratus persen kau bawa keyakinanku.
Pernah hilang. Tapi tak
pernah benar-benar hilang.
Lukisan wajahmu bukan
hanya siluet, melainkan sebuah ukiran.
Aku tak tau. Hanya saja,
setauku jika disebut tulang rusuk, tidak akan tertukar.
Mau kamu berlari ke kutub
utara, hilang di segitiga Bermuda, pun pergi ke abad 19 sekalipun,
kalau memang kamu
diciptakan Tuhan untuk berdampingan, kamu akan hadir.
Kamu akan tiba di hadapanku,
menyandingku, mendampingiku.
Mungkin kepercayaan adalah
awal penghianatan. Tapi ketika kepercayaan itu diserahkan pada Tuhan, ketakutan
macam apa lagi yang masih ingin kau simpan? ;)
Sabar, ikhlas, serahkan
pada Tuhan. Berat pasti, tapi pasti terjawab. Takdirmu adalah jalan terbaikmu.